MEDAN : Akhir-akhir ini Indonesia sering dilanda bencana seperti banjir bandang, gunung merapi meletus, dan kebakaran hutan dan lainnya. Hal ini menimbulkan kekhawatiran Pengurus Besar Pendawa, bumi sudah tidak bersahabat lagi dengan manusia. Korban berjatuhan.
“Bumi mungkin marah atas tingkah manusia. Oleh karena itu kita akan menggelar ritual budaya Ruwat Bumi,” kata Ketua Umum PB Pendawa Ruslan, SE ketika berbincang dengan Ketua DPW IMO Indonesia Sumatera Utara HA Nuar Erde didampingi Sekretaris, Harun Al Rasyid pada Rabu (28/10/2026) di Padepokan PB Pendawa Jalan Advokat Raya Desa Marindal I Kecamatan Patumbak Kabupaten Deli Serdang.
Menurut Ruslan, kegiatan ini akan digelar pada 22 November 2026 mendatang di Avros Park Jalan Avros Medan. Kegiatan menargetkan kehadiran sekitar 2.000 peserta tersebut menjadi upaya melestarikan tradisi Nusantara sekaligus mempererat silaturahmi masyarakat.
Lebih lanjut Ruslan mengatakan Ruwatan Bumi merupakan ungkapan rasa syukur sekaligus doa bersama untuk memohon keberkahan, keselamatan, dan perlindungan bagi bangsa Indonesia. “Ruwatan Bumi merupakan bentuk rasa syukur sekaligus doa bersama untuk memohon perlindungan dan keselamatan. Kita berharap bangsa Indonesia senantiasa diberikan keberkahan dan dijauhkan dari berbagai bencana.
Menurut dia, Ruwatan Bumi memiliki makna mendalam karena tidak hanya menjadi bagian dari tradisi ungkapan syukur, tetapi juga mengandung pesan tentang pentingnya menjaga keseimbangan hubungan antara manusia dan alam serta menghormati warisan leluhur.
Tradisi tersebut juga dimaknai sebagai ikhtiar budaya dan doa bersama agar masyarakat terhindar dari berbagai marabahaya, seperti kekeringan, kebakaran, penyakit, dan bencana lainnya.

Hadirkan Kirab Budaya Hingga Pagelaran Seni Nusantara
Ruslan menjelaskan, Ruwatan Bumi akan dikemas dalam rangkaian kegiatan yang memadukan ritual tradisi, kebersamaan masyarakat, dan pertunjukan seni budaya Nusantara.
Sejumlah agenda yang direncanakan antara lain kirab budaya dengan membawa gunungan sayur dan buah, kenduri dan doa selamatan bersama, pagelaran seni budaya Nusantara, serta tradisi rebutan gunungan.
Berbagai kesenian tradisional juga akan ditampilkan untuk memeriahkan kegiatan tersebut, di antaranya Reog Ponorogo, Jathilan, Debus, pencak silat, tari kreasi Nusantara, dan pertunjukan tokoh Punakawan.
Rangkaian kegiatan itu diharapkan dapat memberikan ruang bagi masyarakat untuk mengenal kekayaan tradisi Indonesia sekaligus menjaga keberlangsungan seni budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Libatkan 2.000 Warga, Dorong Pelestarian Budaya
PB Pendawa Indonesia menargetkan sekitar 2.000 orang menghadiri kegiatan tersebut. Peserta diharapkan berasal dari berbagai daerah, termasuk warga Pendawa dan masyarakat umum.
Ruslan berharap Ruwatan Bumi tidak hanya menjadi ajang berkumpul dan mempererat persaudaraan, tetapi juga menjadi sarana edukasi budaya bagi generasi muda agar tetap mengenal, menghargai, dan melestarikan warisan leluhur.
Menurut dia, pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan bersama, baik dari organisasi kemasyarakatan, generasi muda, maupun masyarakat luas.
“Marilah kita bersinergi dengan alam untuk menjaga keseimbangan kehidupan. Mari kita jaga, rawat, dan lestarikan budaya leluhur agar tetap hidup,” katanya.
Melalui penyelenggaraan Ruwatan Bumi, PB Pendawa Indonesia berharap nilai-nilai kebersamaan, kepedulian terhadap lingkungan, dan penghormatan terhadap tradisi dapat terus diwariskan kepada generasi berikutnya.har
















