ACEH : Puing-puing sisa banjir bandang 2025 yang sempat merendam puluhan kecamatan di Aceh perlahan mulai berganti dengan riuh rendah tawa anak-anak. Di bawah atap kokoh Tenda Sekolah Darurat yang baru didirikan, ratusan anak kembali merajut mimpi mereka yang sempat hanyut bersama luapan air.
Pemandangan humanis ini merupakan buah nyata dari kolaborasi kemanusiaan antara bangsa antara Universitas Detron Indonesia (UDI) dan Faizuddin Centre of Educational Excellence (FCoEE) – MAIPs Malaysia yang berlangsung sepanjang 2025–2026. Banjir ekstrem akibat anomali iklim setahun lalu tidak hanya merusak infrastruktur, tetapi meninggalkan trauma psikologis mendalam (Post-Traumatic Stress Disorder) pada kelompok anak-anak serta menghancurkan mata pencaharian warga pedesaan.
Tergerak oleh krisis multidimensi tersebut, UDI yang berbasis di Kota Medan menerjunkan Satgas Kebencanaan
lintas fakultas, berkolaborasi dengan lembaga kecemerlangan pendidikan dari Perlis, Malaysia. “Pendidikan anak-anak tidak boleh berhenti, apa pun kondisinya. Ketika sekolah mmerekalah rusak berselimut lumpur, di situlah perguruan tinggi harus hadir menjadi jembatan
kemanusiaan,” ungkap perwakilan Direktorat Kerja Sama UDI.
Sinergi serumpun ini membuktikan kekuatan sentuhan humanis yang dipadukan dengan kepakaran akademis. Fakultas Sosial Sains dan Hukum UDI bersama FCoEE-MAIPs merancang program trauma healing spiritual-edukatif yang terstruktur. Lebih dari 300 anak korban banjir mendapatkan pasokan Kid’s Trauma Healing Kit berisi modul resiliensi dan mainan edukatif. Sentuhan konseling psikologis modern yang dipadukan dengan nilai-nilai spiritual terbukti efektif memulihkan resiliensi mental generasi penerus Aceh tersebut dari
bayang-bayang ketakutan pascabencana.ril/nrd
















