Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
BeritaOpini

79 Tahun HMI: Tetap Harus Menjaga Api Keislaman dan Keindonesiaan

54
×

79 Tahun HMI: Tetap Harus Menjaga Api Keislaman dan Keindonesiaan

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Oleh : Dr. Ali Amran Tanjung

Zaman berubah cepat: digitalisasi, krisis ekologis, polarisasi politik, hingga degradasi etika publik. Di tengah semua itu, HMI diuji bukan oleh besarnya nama masa lalu, tetapi oleh relevansi sikapnya hari ini.

Example 300x600

Tujuh puluh delapan tahun bukan sekadar hitungan usia. Ia adalah jejak panjang pergulatan ide, pengabdian, dan keberanian moral. Pada 5 Februari 1947, di tengah bangsa yang masih rapuh pasca-proklamasi, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) lahir sebagai ikhtiar sadar untuk merawat dua cita besar sekaligus: keislaman dan keindonesiaan.

Didirikan oleh Lafran Pane dan kawan-kawan, HMI sejak awal tidak memilih jalan nyaman. Ia lahir dalam situasi genting—ketika kemerdekaan belum sepenuhnya aman, dan arah bangsa masih diperebutkan. HMI hadir bukan hanya sebagai organisasi mahasiswa, tetapi sebagai kekuatan intelektual dan moral yang berpihak pada republik, umat, dan masa depan.

Baca Juga :  Berhasil Selesaikan Kuliah 5 Tahun, 8 Mahasiswa Sumut Diwisuda di Universitas Al-Ahgaf Yaman

Dalam lintasan sejarah, HMI telah melahirkan kader-kader yang mengisi hampir seluruh ruang pengabdian: pendidikan, birokrasi, politik, ekonomi, hingga gerakan sosial. Namun yang paling penting, HMI membentuk tradisi berpikir kritis—tradisi yang tidak tunduk pada kekuasaan, tetapi juga tidak tercerabut dari nilai.

Baca Juga :  Deli Serdang Potensial Jadi Kabupaten Terdepan, Pembangunan Tahun 2026 Dilakukan Lebih Awal

Usia 79 tahun tentu membawa tantangan baru. Zaman berubah cepat: digitalisasi, krisis ekologis, polarisasi politik, hingga degradasi etika publik. Di tengah semua itu, HMI diuji bukan oleh besarnya nama masa lalu, tetapi oleh relevansi sikapnya hari ini. Apakah HMI masih mampu menjadi suara nurani? Apakah kader-kadernya masih teguh memegang independensi, kejujuran, dan keberpihakan pada rakyat kecil?

HMI tidak boleh puas menjadi organisasi nostalgia. Ia harus terus menjadi laboratorium gagasan, tempat lahirnya pemikiran alternatif atas kebuntuan bangsa. Islam yang diperjuangkan HMI bukan Islam simbolik, melainkan Islam yang membebaskan, mencerdaskan, dan menegakkan keadilan. Indonesia yang dicintai HMI bukan Indonesia elitis, tetapi Indonesia yang adil bagi seluruh rakyatnya.

Baca Juga :  Prioritaskan Kelancaran Mobilitas Mudik Lebaran 2025, Pembatasan Operasional Angkutan Barang Diberlakukan di Sumut

Pada usia ke-79 ini, HMI dituntut untuk kembali ke khittah perjuangan: memperkuat kaderisasi, menjaga independensi, dan memperdalam kualitas intelektual. Tantangan zaman mungkin berubah, tetapi panggilan sejarah tetap sama—berdiri di sisi kebenaran.

Selamat Milad ke-79 Himpunan Mahasiswa Islam. Tetap hijau, tetap kritis, tetap berpihak. Karena bangsa ini masih membutuhkan mahasiswa yang berpikir, bergerak, dan berani.

Penulis Alumni HMI – kini Ketua Umum PP Parmusi.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *