Perjalanan dari Krueng Geukueh menuju Kota Lhokseumawe terasa terhenti ketika jerit klakson mendadak hilang. Jalanan berubah menjadi kolam keruh hanya dalam hitungan menit. Setiap musim hujan tiba, pemandangan air setinggi lutut yang melumpuhkan aktivitas, seolah menjadi rutinitas pahit bagi warga Lhokseumawe. Kita sering menuding tingginya curah hujan atau sistem drainase yang usang sebagai penyebab utama.
Namun, mari kita hadapi realitas yang lebih brutal. Sebagian besar kejadian banjir di wilayah padat penduduk bukanlah takdir alam, melainkan akibat dari perilaku manusia sendiri. Di balik arus air bah, tersembunyi tumpukan ‘dosa’ kolektif berupa ribuan kantong plastik, botol bekas, serta limbah rumah tangga yang secara perlahan menyumbat nadi kehidupan kota yaitu saluran air dan sungai. Inilah fenomena banjir karena sampah, sebuah tragedi lingkungan yang sebenarnya dapat kita cegah bersama.
Sudah saatnya kita mengubah sudut pandang mengenai penyebab banjir. Curah hujan tinggi memang menjadi pemicu, tetapi hanya berperan sebagai pendorong. Akar permasalahan terletak pada manajemen limbah padat yang tidak teratur serta perilaku membuang sampah sembarangan. Data menunjukkan bahwa peningkatan volume sampah yang tidak terkelola berkorelasi dengan frekuensi kejadian banjir yang semakin parah. Ketika jutaan ton sampah yang sulit terurai memenuhi pinggir jalan, gorong-gorong, dan aliran sungai, terbentuklah bendungan artifisial yang menghalangi aliran air. Akibatnya, air meluap ke permukaan, memicu kerugian miliaran rupiah dan membahayakan kesehatan masyarakat
Berdasarkan data, Volume Sampah Nasional Di Indonesia, diperkirakan timbulan sampah harian mencapai lebih dari 60-70 juta ton per tahun. Dimana Komposisi Sampah Pemicu : Sekitar 15% di antaranya didominasi oleh sampah plastik yang sulit terurai dan sangat mudah menyumbat saluran air. Berbagai riset menunjukkan bahwa ribuan ton sampah plastik berakhir di sungai setiap tahunnya. Sampah ringan seperti styrofoam dan kemasan sachet menjadi sumbatan efektif di sistem drainase kota.
Jika kita melihat kondisi Kota Lhokseumawe, sebenarnya terdapat jaringan sungai dan drainase yang cukup banyak, bahkan dengan akses yang dekat ke laut. Namun banjir tetap terjadi hampir setiap kali hujan turun, terutama pada bulan dengan curah hujan tinggi. Penyebab utamanya tidak lain adalah penyumbatan saluran yang dipenuhi sampah seperti plastik, botol, dan styrofoam. Tumpukan ini mengurangi kapasitas aliran air secara signifikan, sekaligus mempercepat sedimentasi karena menahan lumpur dan endapan. Di sisi lain, kurangnya fasilitas pengelolaan sampah serta minimnya tempat sampah publik turut mendorong praktik pembuangan sampah ilegal.
Meskipun masyarakat sebenarnya mengetahui penyebab banjir, tumpukan sampah dan banjir tetap terjadi dari tahun ke tahun. Lalu, dimana letak kesalahannya???. Jawabannya terletak pada perilaku dan rendahnya kesadaran kolektif. Kebiasaan membuang sampah sembarangan masih dianggap sepele, padahal dampaknya sangat besar. Air banjir yang bercampur sampah menjadi media penularan penyakit seperti diare, demam berdarah, dan infeksi kulit. Selain itu, banjir menyebabkan kerusakan infrastruktur, kerugian properti, hilangnya aktivitas ekonomi, serta pencemaran sungai dan laut. Kalau sudah begini apakah hanya segelintir masyarakat yang dirugikan??? Tentu jawabannya TIDAK !
Saat ini diperlukan Peran Kuat Pemerintah untuk meningkatkan regulasi dan infrastruktur. Pemerintah harus memperbaiki infrastruktur drainase, melakukan pembersihan sungai secara rutin serta membuat regulasi terkait penegakan hukum yang tegas terhadap pembuang sampah ilegal. Di sisi lain, masyarakat juga harus mengambil peran penting melalui perubahan perilaku. Prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, diikuti dengan kebiasaan memilah sampah dan membuangnya pada tempat yang sesuai. Kegiatan gotong royong juga harus dilakukan secara konsisten, bukan hanya sebagai seremoni atau pencitraan.
Jika diperlukan peran akademisi pun tidak boleh diabaikan. Inovasi teknologi diperlukan untuk memantau kondisi drainase, menangkap sampah sebelum memasuki sungai, dan mengolah sampah menjadi produk yang bermanfaat bagi pertanian maupun industri. Dalam bidang psikologi, psikoedukasi mengenai perubahan perilaku dapat membantu membangun kesadaran lingkungan yang lebih kuat.
Banjir bukanlah bencana alam murni, tetapi juga bencana yang dihasilkan oleh ulah manusia. Dalam hal ini penanganan banjir merupakan tanggung jawab bersama, khususnya bagi pemangku jabatan dan pembuat kebijakan. Jika kita ingin menikmati lingkungan yang bersih dan terbebas dari ancaman banjir, maka perubahan harus dimulai hari ini dari kita sendiri.
Catatan selama tinggal di Lhokseumawe.
Idar Sri Afriyanti Z
(Relawan Lingkungan Hidup Sumut)


















